DCIM105MEDIADJI_0565.JPG

Setelah sekian lama menjadi rindu yang tersimpan, keluarga besar SMA Muhammadiyah 1 Palembang (SMAMSA) akhirnya kembali menggelar kegiatan Rihlah—sebuah perjalanan penuh makna yang bukan sekadar liburan, tetapi ruang untuk merajut kembali silaturahim, menyegarkan jiwa, dan menguatkan kebersamaan. Kegiatan rihlah ini berlangsung selama tiga hari, mulai 20 hingga 22 Desember 2025, dengan destinasi utama Pulau Pahawang, Lampung. Seluruh guru dan karyawan SMA Muhammadiyah 1 Palembang turut ambil bagian dalam perjalanan ini, menempuh perjalanan darat dan laut menggunakan dua bus pariwisata, membawa semangat yang sama: bersama, bahagia, dan saling menguatkan.

Kata rihlah berasal dari bahasa Arab yang bermakna perjalanan atau safar. Namun bagi keluarga besar SMAMSA, rihlah dimaknai lebih dalam dari sekadar berpindah tempat. Ia adalah perjalanan hati—sebuah ikhtiar untuk mempertemukan kembali rasa kekeluargaan, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan kehangatan di antara sesama pendidik dan tenaga kependidikan. Rihlah menjadi momentum penting untuk melepas penat dari rutinitas, membuka ruang komunikasi yang lebih cair, serta memperkuat sinergi. Dengan silaturahim yang terjaga, diharapkan lahir semangat baru dalam bekerja, berkolaborasi, dan bersama-sama mendorong kemajuan SMA Muhammadiyah 1 Palembang. Kegiatan ini terasa semakin istimewa karena merupakan rihlah pertama yang kembali digelar setelah delapan tahun. Kerinduan akan kebersamaan pun seakan terobati sejak roda bus mulai bergerak meninggalkan Palembang.

Suasana pagi di dalam bus dipenuhi canda, tawa, dan obrolan ringan. Lagu-lagu favorit sesekali diputar, mencairkan suasana dan menambah semarak perjalanan panjang menuju Lampung. Tak sedikit bapak dan ibu guru yang mengabadikan momen di dalam bus—sebuah pertanda bahwa perjalanan ini bukan sekadar menuju tujuan, tetapi sudah menjadi bagian dari kenangan. Destinasi pertama yang disinggahi adalah Kampung Vietnam. Setibanya di lokasi, rasa lelah seketika terbayar. Keunikan tempat wisata ini mengundang decak kagum dan rasa penasaran. Bapak dan ibu guru tampak menikmati setiap sudut lokasi, berfoto bersama, bercengkerama, dan saling berbagi cerita. Kampung Vietnam menjadi pembuka yang hangat—sebuah awal yang manis sebelum perjalanan berlanjut menuju petualangan berikutnya.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Dermaga Ketapang untuk menyeberang ke Pulau Pahawang, tepatnya menuju Villa Turi. Debur ombak, semilir angin laut, dan suara mesin kapal menjadi irama tersendiri selama penyeberangan. Sesekali ombak menggoyang kapal, menghadirkan teriakan kecil bercampur tawa—bukan karena takut, melainkan karena pengalaman yang seru dan jarang terlupakan. Puncak keindahan hadir ketika matahari mulai tenggelam, menghadirkan panorama sunset yang begitu memesona. Langit jingga, laut yang berkilau, dan siluet kebersamaan menjadi momen yang tak henti diabadikan oleh kamera dan ingatan. Perjalanan laut yang penuh cerita ini terasa singkat karena kebahagiaan menyertainya.

Setibanya di Villa Turi, rombongan diarahkan menuju tempat istirahat masing-masing secara tertib sesuai pembagian yang telah ditentukan. Setelah beristirahat sejenak, kegiatan dilanjutkan dengan salat berjamaah dan makan malam bersama.Malam hari menjadi puncak kehangatan melalui acara malam keakraban (makrab). Suasana santai namun penuh makna terasa begitu kuat. Batas antara jabatan, tugas, dan rutinitas seakan luruh, berganti dengan kebersamaan yang tulus. Tawa semakin pecah ketika sesi karaoke ria dimulai. Ibu-ibu guru tampil penuh percaya diri dan keceriaan, mengundang tepuk tangan dan sorakan hangat. Bapak-bapak guru pun tak kalah menikmati suasana, ikut larut dalam kegembiraan. Tanpa disadari, malam semakin larut. Namun tidak ada rasa lelah—yang ada hanyalah hati yang hangat dan rasa syukur atas kebersamaan yang terjalin.

Pagi berikutnya, Pulau Pahawang menyambut rombongan dengan cuaca cerah dan laut yang bersahabat. Kegiatan dilanjutkan dengan snorkeling, menyelami keindahan bawah laut yang memesona. Terumbu karang yang berwarna-warni dan ikan-ikan kecil, termasuk ikan nemo, berenang bebas di perairan jernih, menghadirkan kekaguman tersendiri.

Keseruan berlanjut dengan wahana banana boat dan donat boat. Teriakan kegembiraan, cipratan air laut, dan tawa lepas menjadi pemandangan yang menghiasi pagi itu. Momen-momen ini menjadi bukti bahwa kebahagiaan sederhana, jika dinikmati bersama, akan terasa berlipat ganda.

Setelah puas menikmati wisata bahari, rombongan kembali ke vila untuk beristirahat sebelum menyeberang kembali ke daratan Lampung. Setibanya di Lampung, perjalanan dilanjutkan menuju hotel untuk rehat dan memulihkan tenaga. Keesokan paginya, suasana hangat kembali terasa saat bapak dan ibu guru bertemu secara alami di area sarapan hotel. Wajah-wajah cerah, obrolan ringan, dan senyum bahagia menjadi penanda bahwa rihlah ini benar-benar memberi energi baru. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa destinasi wisata di Lampung serta berburu oleh-oleh khas daerah. Kebersamaan terus terjaga hingga akhirnya rombongan bersiap kembali menuju Palembang, membawa pulang cerita, tawa, dan kenangan indah.

 

Rihlah SMAMSA menjadi bukti bahwa kebersamaan adalah kekuatan. Silaturahim yang terjaga diyakini akan melahirkan kekompakan, loyalitas, dan semangat baru dalam mengabdi. Inilah modal penting untuk terus mendorong SMA Muhammadiyah 1 Palembang menjadi sekolah yang unggul dan berkemajuan.

Dalam sambutannya, Kepala SMA Muhammadiyah 1 Palembang menyampaikan harapan agar kegiatan rihlah ini dapat terus dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Bahkan, beliau menuturkan cita-cita besar agar suatu saat keluarga besar SMAMSA dapat melaksanakan perjalanan liburan yang berpadu dengan ibadah, yakni umrah bersama ke Tanah Suci.

Rihlah ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari langkah yang lebih kokoh—melangkah bersama, saling menguatkan, dan menatap masa depan SMAMSA dengan penuh optimisme dan kebersamaan.