
By: Raven
Hallo Smamsa People!
Suasana SMA Muhammadiyah 1 Palembang terasa berbeda pada 20 Januari 2026 lalu. Aula sekolah dipenuhi semangat dan rasa ingin tahu para siswa yang antusias mengikuti Seminar Digital Frontier 2026. Kegiatan yang digagas oleh Bidang PIP PR IPM SMAMSA ini menghadirkan diskusi hangat seputar dunia digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda.

Seminar ini semakin menarik dengan hadirnya pemateri inspiratif, Muhammad Ilham Fahlevi, mahasiswa Sistem Informasi Universitas Sriwijaya (UNSRI). Mengangkat tema Transformasi Digital, kak Ilham mengajak peserta memahami bahwa perubahan digital bukan sekadar soal gadget atau aplikasi canggih, melainkan perubahan cara berpikir, cara belajar, hingga cara mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, transformasi digital digambarkan sebagai realitas yang sedang kita jalani bersama. Akses informasi kini begitu luas, teknologi AI semakin dekat, dan semuanya dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar. Namun di balik kemudahan itu, tersimpan tantangan besar. Penggunaan AI tanpa etika, kebiasaan menyalin tugas tanpa proses berpikir, hingga maraknya hoaks dan konten manipulatif menjadi isu yang tak bisa diabaikan.
Data yang disampaikan pun cukup membuka mata. AI in Education Statistic 2026 mencatat bahwa 88% siswa menggunakan AI generatif untuk mengerjakan tugas sekolah. Sementara itu, Sensity AI melaporkan lonjakan 550% konten deepfake dalam lima tahun terakhir. Angka-angka ini menunjukkan bahwa teknologi berkembang sangat cepat—dan manusia harus lebih bijak mengikutinya.
Meski begitu, seminar ini tidak hanya menyoroti sisi gelap teknologi. Kak Ilham juga menekankan besarnya peluang positif jika AI digunakan dengan tepat. AI dapat menjadi asisten belajar, membantu mencari ide, memahami materi sulit, hingga membuka akses belajar tanpa batas—mulai dari bahasa asing sampai dunia coding. Kuncinya satu: gunakan dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Pesan utama yang terus digaungkan dalam seminar ini begitu membekas,
“Gunakan AI sebagai alat belajar, bukan sekadar jalan pintas.”
Teknologi, termasuk AI, hanyalah alat bantu. Proses berpikir, kejujuran, dan usaha tetap harus datang dari diri sendiri. Jangan sampai kemudahan justru membuat kita kehilangan daya kritis dan kreativitas.
Seminar Digital Frontier 2026 pun menjadi ruang refleksi bersama. Di era digital yang serba cepat ini, kita memang beruntung hidup dengan teknologi yang luar biasa. Namun, menjadi pelajar hebat bukan hanya soal pintar menggunakan teknologi, melainkan juga mampu menjaga integritas dan etika.
Akhir kata, kegiatan ini sukses meninggalkan kesan mendalam bagi Smamsa People. Saatnya mengubah kebiasaan: jadikan AI sebagai sumber inspirasi, bukan pelarian dari tanggung jawab. Mari buktikan bahwa siswa SMA Muhammadiyah 1 Palembang bukan hanya melek teknologi, tetapi juga generasi berkarakter dan berintegritas tinggi.


